About Me

Kesesatan berpikir (Logical Fallacy) yang terjadi disekitar kita


Hari pertama kuliah semester 2 langsung dikasih matkul Matematika dan berpikir Logis. Materi ini menurut gua cukup menarik untuk dipelajari karena setelah diberikan di kuliah gua jadi sadar bahwa jenis-jenis sesat berpikir itu benar-benar terjadi di kehidupan nyata dan terkadang orang-orang memanfaatkan kesesatan berpikir untuk mengelabui orang lain. Bahkan, hal ini bisa terjadi dalam pengambilan keputusan sehingga bisa berbahaya dan merugikan orang lain. Salah satu contoh yang diberikan dosen gua itu adalah tentang seorang jaksa yang beragumen seseorang yang salah dengan menyerang pribadinya....

Terdakwa : Saya tidak tahu apa-apa karena waktu itu saya sedang pulang dan kebetulan saya melewati tempat pencurian tersebut.
Jaksa : Akan tetapi, sangat mungkin saudara lah pelaku pencuriannya karena saudara seorang pengangguran dan berpendidikan rendah.

Nahh, ini masalahnya..Jaksa tersebut tidak mempunyai fakta-fakta sehingga dia beragumen dengan "nganggur" dan pendidikan orang tersebut yang tidak ada kaitannya dengan pencurian. Kesesatan berpikir seperti ini akan mudah kita kenali dengan mengetahui jenis-jenisnya. Kalo kalian penasaran, Ada 12 jenis Logical fallacy :

Pertama, Penolakan terhadap antencedent. Kalo kalian yang ikut UTBK pasti dengan mudah paham hal ini. Sebagai contoh nih :
    "Jika hujan maka jalanan basah"
Jika hujan maka akan jalanan basah. Akan tetapi, bukan berarti jika tidak hujan maka jalanan tidak basah karena siapa tahu disiram orang. Oleh karena itu, kita tidak dapat mengambil kesimpulan apapun jika ternyata tidak hujan.

Kedua, Menegaskan konsekuensi. Jenis ini juga mudah dipahami dengan contoh di atas. Apakah jika jalanan basah hujan??....Nyatanya hal ini juga salah karena banyak hal lain yang menyebabkan jalanan basah.

KetigaThe undistributed middle term. Ini sering banget kita temui saat ngerjain soal-soal SBMPTN, dengan kata beberapa, ada, dan sebagian. Contohnya jenis ini adalah 

"Beberapa orang terinfeksi covid-19 adalah mahasiswa "

kita tidak dapat mengambil kesimpulan bahwa jika ada seorang mahasiswa maka ia terinfeksi Covid-19.

Keempat, The straw-man fallacy. Maksudnya adalah kita memberikan suatu kesan seolah-olah kita menyimpulkan argumen seseorang. Padahal, kesimpulan yang dibuat bukan dari argumen lawan. Hal ini karena yang kita sampaikan adalah hasil pemahaman yang salah terhadap pernyataan yang disampaikan. Contohnya adalah
 
Orang pertama : Selama ini koperasi tidak berjalan dengan baik sehingga perlu adanya perbaikan
Orang kedua : Menurut pernyataan anda, berarti koperasi sudah tidak diperlukan lagi?

Nah logical fallacy jenis ini banyak banget di media sosial atau bahkan acara debat. Biasanya disebabkan karena salah mengartikan atau bahkan sengaja untuk menyerang lawan sehingga terlihat masuk akal. Hmmm, klo kita diskusi dengan orang yang seperti ini si emg ngeselin banget...sentil aja ginjal nya ya hehe.

Kelima, The democratic fallacy. Sesuai dengan namanya "the democratic", jenis ini menyatakan bahwa pendapat orang banyak adalah kebenaran. Jenis ini banyak juga di iklan-iklan pasta gigi, obat kumur-kumur, sabun mandi, air minum, dll. Biasanya isinya tuh gini "90% dokter gigi menyarankan untuk menggunakan pasti gigi produk pepsident" wkwkw..

Keenam, The ad homimem fallacy. Ini terjadi pada kasus jaksa di atas. Kita menunjukkan seseorang bersalah atau tidak berdasarkan karakter atau individu seseorang. Padahal, gak ada hubungannya sama sekali, yang dibahas pencurian yang komentarin malah pendidikan orangnya.

Wokeee cukup sekian 6 kesesatan berpikir. Ini aja udh banyak, cape ketiknya wkwk..Mudah2an membantu dan ada bagian ke-2 nya. Itu pun klo lagi gk ada tugas banyak hehe..

0 komentar:

Posting Komentar